Cast : Lee Eunhyuk
Liana Vivian (vey)
Author : Penulis
“tumben tuan meja no. 7 tidak datang.. biasanya dia kan akan datang jam segini” ujar vey sendiri seraya melirik jam dinding strawberry yang di gantung di dekat pintu masuk.
“hei! Kau sedang menunggu dia ya? tuan berkacamata!” ujar hara
“no. 7? Ya.. begitulah!” jawab vey tersenyum. Mereka pun mengobrol sampai akhirnya ada telepon dari seorang pelanggan.
>0< >0< >0< >0< >0<
“aduh! Kepalaku sakit!” keluh eunhyuk keluar dari kamarnya seraya memukul-mukul pelan kepalanya.
“ini semua gara-gara siwon! Kalau saja aku tidak dipaksa minum, tidak mungkin aku begini!” umpatnya
“donghae juga salah! Bukannya menolongku, dia malah membantu siwon!” lanjutnya mengerutu.
Dengan langkah sedikit berat, eunhyuk berjalan menuju dapur mencari segelas susu.
“aish! Susuku dimana ya? pasti diminum lagi sama yesung hyung!” ujarnya kesal mengingat kebiasaan yesung setiap pagi.
“lalu bagaimana dong?” tanyanya sendiri sembari duduk di kursi pentri dapur
“mana aku sendiri lagi disini! Heuh!”
“ah! Aku ingat!” katanya semangat. Iapun segera membuka ponselnya.
“ini dia!” tambahnya setelah menemukan nomor telepon yang ia cari.
“annyeong! Ini benar dengan strawberry world?” sapa eunhyuk.
“ya benar. Ada yang bisa saya bantu tuan?” jawab seorang yeoja di seberang sana
“aku ingin pesan susu strawberry, bisa?”ucap eunhyuk tersenyum
>0< >0< >0< >0< >0<
ting nong~
bel berbunyi, tanda ada seseorang datang. Tanpa basa-basi, eunhyuk pun langsung melesat menuju pintu.
“pesananku datang!” uja eunhyuk senang seraya membuka pintu
“permisi tuan. Ini pesanan anda” ujar yeoja si pengantar pesanan. Sesaat mereka saling pandang. Terlihat perasaan kaget dari ang yeoja.
“maaf tuan. Ini pesanan anda” ujar yeoja itu kembali
“ah iya!.. silahkan masuk. Taruh saja di meja dapur” kata eunhyuk tersentak
yeoja itupun masuk menuju dapur, sedangkan eunhyuk pergi ke kamar mengambil dompet. Tak lama, telepon yeoja itu berdering.
“yeobseyo?” sapanya
“vey! Liana Vivian! Kau sangat beruntung! Kau tahu?”tanya seorang yeoja, temannya
“tidak lah kau kan belum beri tahu. ada apa?”
“kau sekarang ada di mana?” tanya temannya kembali
“sedang di tempat pemesan tadi. Wae?”
“kau tahu! yang mesan tadi itu eunhyuk! Super junior! Idolamu!”
“ne, aku tahu. tadi aku juga terkejut” jawab vey
“oh! Hara, Sudah dulu ya” lanjutnya seraya menutup ponselnya menyadari eunhyuk datang mendekat.
“berapa semuanya?” tanya eunhyuk merogoh isi dompetnya. Sesekali ia memegangi mulut dan perutnya.
“30.000 Won” jawab vey singkat. Ketika hendak menyerahkan uangnya, tiba-tiba tubuh eunhyuk terhuyung kedepan dan tak sengaja memuntahkan semua isi perutnya di baju vey.
“AH! Mian! Mianhamnida! A.. aku akan segera kembali” ucap eunhyuk menyadari kelakuannya. Vey yang menerima perlakuan eunhyuk hanya bisa diam memetung melihat baju bdan celananya yang sudah penuh dengan muntahan namja itu.
‘ya tuhan.. aku mimpi apa semalam? Sampai aku bisa dianggap toilet oleh idolaku sendiri’ keluh vey tak menyangka.
“ini! Biar aku basuh dengan air” ujar eunhyuk yang datang dengan segelas air dan kain. Belum sempat vey menjawab, eunhyuk segera menyiram baju vey. Bukannya lebih baik, keadaan baju vey malah tambah buruk.
“hah??!! sudah sudah. Biar aku pulang saja!” ujar vey buru-buru
“tunggu!” ujar eunhyuk seraya menghadang vey agar tak pergi
“jangan seperti ini! Aku mohon! Biar aku cuci dulu bajumu, ok?” seru eunhyuk memohon.
>0< >0< >0< >0< >0<
“maaf ya.. aku jadi merepotkanmu” kata vey setelah keluar dari kamar mandi. Dia terlihat gugup karena harus memakai pakaian eunhyuk untuk sementara.
“aniyo! Seharusnya aku yang minta maaf karena telah mengotori bajumu” jawab eunhyuk seraya menoleh kearah vey dan diam memperhatikannya.
Rambut hitam sebahu ia biarkan tergerai. Tubuhnya yang kecil hamper tenggelam karena baju yang ia pakai. Baju yang eunhyuk pakai juga saat di video klip no other kemarin. Baju itu terlalu besar buatnya, hingga sebelah pundak dan kedua kaki jenjangnya terlihat. Vey yang menyadari kalau dirinya terus diperhatikan oleh eunhyuk hanya bisa diam dan terus menarik bajunya berusaha menutupi paha putihnya.
“mm.. mian. Aku.. boleh pinjam celanamu tidak? Baju ini.. sejujurnya aku risih memakainya” ucap vey malu sembari menghampiri eunhyuk.
“oh! Ya. tentu saja! Tunggu sebentarnya” sahut eunhyuk meninggalkan vey sendiri di meja makan.
20 menit kemudian~
‘aduh lama sekali..! aku kedinginan nih!’ ujar vey sembari mengelus-elus pahanya.
Karena gelisah menunggu eunhyuk yang tak kunjung datang, akhirnya ia memutuskan menyusul ke kamar eunhyuk. Perlahan ia mengetuk pintu kamar, tapi tak ada jawaban hingga ia melakukannya berulang-ulang. Vey yang tidak sabar akhirnya masuk dan melihat eunhyuk yang duduk terdiam memandang ke arah jendela.
“kau bisa tolong aku? Tolong tutup pintunya dan hordeng di depanku ini” pinta eunhyuk tanpa menoleh ke vey. Vey yang bingung hanya bisa menuruti pinta eunhyuk. Ia menutup pintu kamar eunhyuk dan berjalan menuju jendela dan menutupnya.
Eunhyuk yang duduk di atas ranjang diam memandang tubuh vey dari belakang yang sibuk menutup hordeng. Cahaya matahari yang masih menunjukkan pukul 10 pagi menyinari tubuh vey membuat lekukan tubuhnya berbayang di hadapan eunhyuk. Setelah menutup hordeng, vey berbalik berjalan menuju eunhyuk.
“mm.. aku sudah tutup hordengnya. Sekarang.. celananya mana?” tanya vey sedikit memaksa. Namja yang ditanya hanya diam mematung.
Vey melangkah lebih dekat dan hendak menanyakannya sekali lagi sebelum namja itu dengan cepat meraih pinggangnya dan memeluknya erat. Vey yang menerima perlakuan namja itu hanya bisa diam tak percaya.
“lee.. eun.. hyuk” ujar vey menatap kepala eunhyuk di dadanya. Eunhyuk yang tak menjawab panggilan vey segera membanting tubuh vey perlahan ke atas ranjang. Tangan kanannya mengelus lembut rambut vey. Tatapan matanya menginsyaratkan bahwa ia menginginkan sesuatu dari vey. Tak menunggu waktu lama eunhyuk pun menindih tubuh vey..
Vey yang terkejut berusaha menahan tubuh eunhyuk, tapi perlahan tenaganya menghilang ketika eunhyuk menciumnya dan memainkan lidahnya menyelusuri rongga mulutnya. Terus mengulumnya hingga menemukan lidah vey dan memainkannya. Tangan kiri eunhyuk juga tak tinggal diam. Ia meraba lembut paha vey dan menyelusup masuk ke baju vey hingga baju itu naik ke dadanya.
Menyadari vey yang sulit bernapas, perlahan eunhyuk melepas ciumannya dan beralih ke leher vey. Mencumbunya hingga meninggalkan kiss mark yang cukup merah. Tangan kiri eunhyuk terus menelusuri tubuh vey, mengelus punggung vey hingga menemukan apa yang ia cari. Dengan cepat, ia lepas pengait bra vey dan bebas menjelajah.
Vey yang tadi sempat melawan, sekarang hanya bisa mengikuti permain euhyuk. Ia berusaha membalas semua perlakuan eunhyuk walaupun ia tahu, ia tidak akan bisa sehebat eunhyuk. Perlahan ia melepaskan baju kaos eunhyuk dan celana eunhyuk hingga tidak ada lagi pembatas diantara mereka berdua.
“aahh..” desah vey yang membuat eunhyuk semakin ganas dan dalam. Eunhyuk kembali mencium vey dan kembali menjelajah dengan kedua tangannya membuat vey semakin panas.
“cukup” ujar vey lemah.
“tapi aku ingin lebih” balas eunhyuk. Setiap kali vey mendesah dan meminta berhenti, semakin membuat eunhyuk melakukannya lebih dan lebih.
>0< >0< >0< >0< >0<
“kau mau kemana?” tanya eunhyuk yang masih berbaring di atas ranjang.
“pulang” jawab vey seraya memakai pakaiannya yang dia ambil dari jemuran
“pulang? ini masih jam 3 sore” seru eunhyuk sembari melihat ponselnya. tanpa menghiraukan perkataan eunhyuk, vey berjalan hendak membuka pintu.
“eits! Tunggu!” seru eunhyuk yang langsung berlari ke pintu menghadang vey keluar kamar. Vey yang melihat eunhyuk sedikit terkejut dan berbalik mengambil celana eunhyuk.
“pakai dulu!” kata vey seraya melempar celana ke eunhyuk tanpa menoleh.
“kau benar-benar ingin pulang?” tanya eunhyuk menghampiri vey setelah memakai celana.
“ne” jawabnya singkat
“kau tahu, tak seharusnya kita melakukan ini” sambung vey.
“waeyo?” tanya eunhyuk menatap kedua mata vey
“kita tidak saling kenal. Yaa mungkin aku tahu kau, tapi kau tidak tahu aku” jelas vey. Perlahan ia melangkah pergi hingga eunhyuk menahan tangan vey
“siapa bilang? Aku tahu kau. Liana Vivian, mahasisiwi asal indonesia” ucap eunhyuk yang membuat vey terkejut dan berbalik memandang eunhyuk.
“tuan berkacamata, meja no. 7. kau ingat itu?” tambahnya seraya menatap wajah vey yang tak menyangka.
“kau..” ujar vey terkejut. Sangat terkejut.
“sebulan ini aku memperhatikanmu. Aku merasa ada yang menarik dari dirimu” ujar eunhyuk tersenyum.
“jadi.. tak ada yang salah kan kalau kita melakukannya” lanjutnya sembari mengelus pelan pipi vey.
Eunhyuk menatap tajam kedua mata vey. vey yng balik menatap mata eunhyuk mulai tenggelam dalam mata eunhyuk. Perlahan, wajah eunhyuk mendekati wajah vey. Vey yang merasa akan terjadi sesuatu hanya bisa diam dan perlahan memejamkan matanya. Benar yang vey duga, eunhyuk mencium bibirnya lembut. Sangat lembut dibandingkan dengan sebelumnya yang ia akui sangat panas.
Cklek~ pintu kamar terbuka
“hyung! Aku pu-” ujar wookie tiba-tiba di pintu kamar terkejut melihat eunhyuk yang hanya mengenakan celana boxer putih sambil berciuman dengan seorang yeoja.
“oh ada tamu rupanya” susul kyu tersenyum yang berdiri di belakang wookie seraya melongok ke dalam kamar
“selamat datang” lanjutnya seraya menutup pintu kamar dan menarik wookie pergi.
Vey dan eunhyuk hanya tersenyum malu-malu setelah mereka melepas ciumannya.
“mm.. kau mau pulangkan? Aku antar pulang ya” ujar eunhyuk disertai anggukan dari vey. Setelah berpakaian, mereka berduapun keluar dari kamar sembari bergandengan tangan.
“semuanya! Aku pergi dulu ya!” seru eunhyuk kepada keempat temannya
“kira-kira kau akan pulang jam berapa?” tanya sungmin
“mm.. mungkin nanti malam. Bisa juga besok pagi” jawab eunhyuk tersenyum ke arah vey. wookie yang masih shok akan kejadian tadi hanya bisa diam dan tak bisa membayangkan apa yang barusan terjadi di dalam kamar hyungnya.
“hai wookie, kau tak apa-apa?” tanya yesung cemas
“tidak. Dia tidak apa-apa. Ya kan hyung?” ujar kyu tertawa kecil.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar